Selamat Datang di Ponpes Riyadhussholihiin

02. PEMBAHASAN AL-QURAN KALAMULLAH BUKAN MAKHLUK

February 28, 2022 admin No Comments

بسم الله الرحمن الرحيم

 

وَقُـلْ غَيْـرُ مَخْلِوقٍ كَلامُ مَليكِنا بِـذَلكَ دَانَ الأتْقِياءُ وأَفْصحُــوا

Katakanlah ! bukan makhluk perkataan raja kita

Dan dengan itu beragama orang-orang yang bertakwa dan mereka menjelaskannya

وَلا تَكُ فِي القُرْآنِ بالوَقْفِ قَائِــلاً كَمَا قَالَ أتْبَاعٌ لِجَهْمٍ وَأَسْجَحُوا

Dan janganlah engkau dalam urusan al-Qur’an diam/menahan diri

Sebagaimana perkataan para pengikut Jahm dan mereka cederung kepadanya

ولا تَقُـلِ القُرآنُ خَـلقاً قـرأتَـهُ فإنَّ كَـلامَ اللهِ باللفْظِ يُــوضَحُ

Dan jangalan kalian katakan  ! al-Qur’an makhluk yang aku baca

Dan sesungguhnya Kalam/perkataan Allah dijelaskan dengan lafadz

 

 

  1. Perkataan Lisan Dan Keyakinan Hati

 

Tiga bait ini didatangkan sambungan dari bait sebelumnya, yang mana di Muqodimah Mualif  menjelaskan  tentang bagaimana syogyanya Ahlussunnah dalam beragama yaitu berpegang teguh dengan tali Allah (Al-Qur’an dan Sunnah) . Di sini beliau memulai bait-baitnya dengan menjelaskan Aqidah Ahlussunnah terhadap al-Qur’an. Maka beliau katakanlah wahai Ahlussunnah !, bukan sekedar dengan lisan tapi juga harus dengan hati.

Allah berfirman :

 

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Artinya :

Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Al-Baqarah 2:136)

 

Maka hanya orang munafik yang mengatakan dengan lisan tapi tidak disertai keyakinan dalam hati bahwa perkataan raja kita yaitu Allah bukanlah makhluk. Disini Al Mualif Rahimahullahu ingin menjelaskan aqidah ahlussunah tentang Al-Qur’an Al-Adzim yang dibaca satu hurufnya satu pahala. Nabi shallallahu ‘alaih wassalam bersabda :

 

منْ قرأَ حرفًا من كتابِ اللهِ فله به حسنةٌ، والحسنةُ بعشرِ أمثالِها لا أقولُ آلم حرفٌ، ولَكِن ألِفٌ حرفٌ، ولامٌ حرفٌ، وميمٌ حرفٌ

 

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitabulah maka baginya kebaikan, dan setiap kebaikan dikalikan sepuluh kalilipat, aku tidakan Alif, Laam, Miim, itu saru huruf, tapi Alif satu huruf, laam satu huruf an mim satu huruf.

 

  1. Aqidah Ahlussunnah Tentang Al-Qur’an

 

Al-Quran dalam Aqidah Ahlususunnah kalamullah hakiki, betul-betul kalamullah, baik  huruf-hurufnya ataupun suara yang kita dengar. Hurufnya alif laam miim, dan suaranya itulah kalamullah. Lafadz dan maknanya semuanya adalah kalamullah, maka setiap hurufnya itulah kalamullah. Dan itu kesepakatan Ahlusunnah. Makanya Imam  Al laa likai rahimahullahu beliau mengatakan ada 500 ulama di zaman beliau yang mengatakan bahwa sepakat ahlussunnah bahwa Al-Qur’an kalamullah dengan lafad, huruf, dan suara.

 

Al Imam Ibnu qooyyim juga mengatakan dalam nuniyyahnya:

Telah bercerita 500 ulama di seluruh negeri bahwasannya Al-Qur’an itu kalamullah dan Imam al-Laalikai telah menceriakan dari mereka (ulama-ulama) bahkan sebelumnya Imam Thabrani juga demikian

 

Dengan itulah orang orang yang bertakwah berkeyakinan, siapa orang yang bertakwa ? maka jawabannya adalah ahlus sunnah. Karena definisi dari takwah adalah ittiba’u sunnah, maka jika tidak mengikuti sunnah dalam beraqidah, dalam beribadah tidak disebut bertakwa, karena mengikuti sunnah atau mengikuti Nabi shallallau ‘alaih wassalam adalah diantara perintah Allah subhanhau wa ta’ala.

 

Maka orang-orang bertakwah berkeyakinan demikian (al-Qur’an kalamullah) tidak cukup hanya berkayakinan saja namun juga mereka menjelaskannya kepada manusia, baik dalam kajian-kajian mereka, khutbah-khutbah mereka dan dalam kitab-kitabnya. Bahkan seorang ulama yang berkuniyah abu hamid al isfiraiyniy beliau mengatakan disetiap pembukaan khutbah jum’atnya :

Al-Qur’an adalah Kalamullah bukan makhluk sebagaimana perkataan Imam Ahmad bukan sebagaimana keyakinan Al-Bakilaniy.

Demikian para ulama Ahlussunnah menjelaskan aqidahnya. Maka pelajaran yang bisa kita ambil bahwa kita harus agungkan Al-Qur’an.  Karena yang ada di mushaf itu perkataan itu Allah, dengan hurufnya keluar dari Allah dengan maknanya keluar dari Allah, jika kita agungkan prekataan Nabi shallallahu ‘alaih wassalam, perkataan ulama, perkatan ustadz, maka Al-Qur’an adalah perkataan Allah yang harus lebih kita agungkan lagi, makanya kemuliaan akan Allah berikan kepada Ahlul Qur’an.

 

  1. Aqidah Jahmiyyah Tentang Al-Qur’an

Maka mualif disini mengingkari keyakinan kelompok-kelompok sesat yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk yang mana mereka adalah para pengikut Jahmiyyah (Jahm bin Shafwan) yang silsilah ilmu Jahm bin shafwan adalah silsislah yang menyesatkan yang ia mengambil ilmu dari Ja’d bin Dirham, dari Aban bin Sam’An dari Thalut bin Ukhti Labid  dari labid bin A’sham Al- Yahudi yang pernah mensihir Nabi shallallahu ‘alaih wassalam. Dan subhanallahu Aqidah Jahm bin Shafwan ini dikafirkan oleh para ulama, diantara aqidahnya Jahm bin shafwan adalah Allah tidak memiliki nama dan sifat yang artinya Allah tidak ada.

Salah satu warisan dari Jahm bin shafwan adalah menolak sifat kalam bagi Allah (Allah tidak berbicara) makanya Jahmiyyah dengan tegas mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk yang Allah ciptakan dengan lafadz dan suaranya.

 

  1. Aqidah Mu’tazilah Tentang Al-Qur’an

Disana ada Firqah yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk namun tidak secara terang-terangan, mereka  katakan  bahwa idhafah/penyandaran kalam kepada Allah adalah idhafah makhluk kepada khaliq yang artinya seperti naaqatullah (unta Allah) atau baitullah (rumah Allah), maka semua idhafah kepada Allah adalah idhafah makhluk ila khaliq, yakni  Allah punya sifat kalam,  Allah berbicara tapi mereka katakan penyandaran tersebut adalah penyandaran makhluk kepada khaliq, dengan kata lain mereka mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk yang disandarkan kepada Khaliq (pencipta).

 

  1. Aqidah Waqfiyyah Tentang Al-Qur’an

Salah satu firqah yang bercabang dari Jahmiyyah adalah Waqfiyyah karena Jahmiyyahpun terpecah-pecah lagi menjadi banyak sekte-sekte. Firqah Waqfiyyah mereka diam dari mengatakan Al-Qur’an bukan makhluk, demikian juga ketika ditanyakan kepada mereka apakah al-Qur’an makhluk mereka mengatakan “tidak tahu”. Mereka kelompok yang bimbang dan ragu seakan-akan mereka ingin berlepas dari perselisihan. Kenapa mereka dikatakan bagian dari jahmiyyah ? karena mereka tidak memiliki kejelasan dalam persoalan ini. Sebagaimana Ahlussunnah jelas mengatakan bahwa Al-Qur’an kalamullah bukan makhluk. Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengatakan : Al Waaqifatu Jahmiyya. Yaitu orang-orang yang diam dari mengatakan al-qur’an makhluk atau al-qur’an bukan makhluk, mereka ragu, padahal ragu merupakan salah satu pembatal keimanan.

Allah berfirman :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. ( Al-Hujuraat : 15 )  

 

Maka kewajiban kita beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tidak boleh dicampuri dengan keraguan.

  1. Kelompok LafdhiyyahBagian Dari Jahmiyyah

Imam Ahmad rahimahullahu mengatakan lafdizyyah adalah Jahmiyyah, karena mereka tidak jelas, pendapat mereka katakan : “lafdizy/ucapanku dengan Al-Qur’an makhluk atau bacaanku dengan Al-Qur’an adalah makhluk”. Ini pekataan yang tidak jelas. Seakan-akan mereka yakini apa yang aku baca ialah makhluk.

Para ulama membedakan antara al-laafidz wal malfuudz yang mengucapkan dan yang diucapkan, As-Saami’ wal masmu’  yang mendengar dan yang didengar , Al-Kaatib wal Maktub yang menulsi dan yang ditulis, adapun mereka lafdizyyah tidak jelas. Mereka tidak bedakan baik yang mengucapkan maupun yang dicupakan,  yang ditulis maupun yang  menulis, lafadz dan yang dilafadzkan. Kalau yang mereka maksud makhluk adalah yang diucapkan ini kesesatan karena yang diucapkan adalah kalamullah, Kalau yang mereka maksud makhluk adalah yang ditulis maka yang ditulis adalah kalamullah. Kalau mereka maksudkan makhluk adalah yang dihafal ketahuilah itu  kalamullah. Tapi jika yang dimaksud mereka adalah yang mengucapkan,  yang menghafal, yang membaca, yang menulis, termasuk mushafnya, jilidnya, ketasnya, tintanya, benar semua itu adalah makhluk. Namun yang ditulis, dibaca, dihafal adalah kalamullah. Oleh karena itu perkataan lafdziyyah adalah perkatan yang tidak jelas/mubham yang bisa dimakani benar bisa juga dimaknai keliru. Namun Imam Ahmad mencap mereka bagian dari Jahmiyyah.

Adapun Ahlususnnah mengatakan :

الكلام كلام الباري والصوت صوت القارئ

Perkatan itu adalah pektaan Allah namun suaranya adalah suara makhluk

 

  1. Aqidah Asy’ariyyah Tentang Al-Qur’an

Disana ada pendapat yang lainnya yaitu Asy’ariyyah yang mana Abul Hasan Al-Asy’Ariy sebelum tobatnya beliau menetapkan sifat kalam, ia katakan Al-Qur’an kalamullah, hanya saja ia katakan kalamu nafsi (kalam jiwa) tanpa lafadz tanpa huruf, tanpa suara yang didengar oleh Jibril, maka yang kita baca dari mulai alfatihah, al baqarah dan seterusnya adalah ibarah ‘an kalamillah sebetulnya sama ingin mengataka semua yang di mushaf adalah makhluk. Maksud dari kalam nafsi adalah Allah memahamkan kepada Jibril kemudian Jibril memberi pemahaman kepada Rasul maka rasul yang mengibaratkannya seperti hadits. Maka alif lami dan seterusnya bukan dari Allah, yang dari Allah hanya pemahaman, maka inipun pendapat yang keliru.

Allah berfirman :

 

وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْلَمُونَ

 

Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman  Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (At-Taubah :6)

 

 

Rangkuman Materi :

 

  1. Keimanan ditampakan dengan perkataan dan keyakinan hati
  2. Perkataan tanpa diiringi dengan keyakinan merupakan sifat munafik
  3. Imam ahmad mengatakan : Siapa yang mengatakn al quran makhluk maka ia telah kafir
  4. Aqidah Ahlussunnah tentang Al-Qur’an adalah  yang kita dengar, kita baca, dalam mushaf itu kalamullah, dengan lafadz dan hurufnya.
  5. Ragu-ragu merupakan salah satu pembatal keimanan.

Perbedaan mu’tazilah dan shuffiyah : Mu’tazilah tidak mengakui sifat, dan syubhatnya adalah  semua yang di sandarkan kepada Allah adalah makhluk, baitullah, naqatullah, ardullah. Sebaliknya Sufiyyah semua yang diidhafahkan kepada Allah, sehingga mereka menetapkan Allah ada dimana-mana.

  1. Allah dengan jelas menerangkan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah/firman Allah sebagaimana dalam surat  At-Taubah ayat 6

 

Leave a Reply