Bersikap Pertengahan dalam Memberikan Nasihat dan Wasiat Agung Rasulullah di Akhir Hayat
Bersikap Pertengahan dalam Memberikan Nasihat dan Wasiat Agung Rasulullah di Akhir Hayat
Diterbitkan Pada :
Rab, 4 November 2026
Diterbitkan Oleh :
abuluqman

Perjalanan hidup manusia di dunia ini adalah sebuah kepastian yang terus bergerak menuju titik akhir, yaitu perjumpaan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian, dan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengingatkan kita di dalam Al-Qur'an:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Artinya: "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati." (QS. Ali 'Imran: 185)

وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

Artinya: "Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)." (QS. Al-Hasyr: 18)

Tidak ada bekal yang mampu menyelamatkan dan membahagiakan seorang hamba saat bertemu dengan Rabb-nya selain al-'ilmun nafi' (ilmu yang bermanfaat) dan al-'amalush shalih (amal saleh). Salah satu wujud pengamalan ilmu tersebut adalah saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran dengan cara yang bijaksana.

Prinsip Pertengahan dalam Memberikan Nasihat (Al-Wa'zhu wal Iqtishadu Fihi)

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam An-Nawawi mengangkat bab Al-Wa'zhu wal Iqtishadu Fihi (Memberikan Nasihat dan Bersikap Pertengahan di Dalamnya). Kata al-iqtishad atau al-qashdu bermakna berada di tengah-tengah: tidak berlebihan (ifrath) yang dapat menimbulkan kejenuhan bagi pendengar, dan tidak pula meremehkan atau enggan (tafrith) hingga meninggalkan kewajiban berdakwah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

الْقَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوا

Artinya: "Hendaknya kalian bersikap pertengahan (sederhana dan proporsional), hendaknya kalian bersikap pertengahan, niscaya kalian akan sampai pada tujuan." (HR. Bukhari)

Keindahan metode Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam menasihati terlihat jelas ketika beliau menghadapi orang yang baru belajar atau melakukan kesalahan karena ketidaktahuan, sebagaimana kisah sahabat Mu'awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu 'anhu. Saat Mu'awiyah berbicara di tengah pelaksanaan shalat karena belum mengetahui hukumnya, Rasulullah tidak menghardik, tidak mencaci, dan tidak memakinya. Beliau menasihatinya dengan penuh kelembutan hingga Mu'awiyah berkata:

مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ

Artinya: "Aku belum pernah melihat seorang guru pun, baik sebelum maupun sesudah beliau, yang lebih baik cara mengajarnya daripada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam." (HR. Muslim)

Tiga Kunci Nasihat yang Menggetarkan Hati

Dalam hadis ke-702 di kitab Riyadhus Shalihin, sahabat Al-'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu mengisahkan bagaimana dahsyatnya pengaruh nasihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ

Artinya: "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memberikan sebuah nasihat (wejangan) kepada kami dengan nasihat yang membuat hati bergetar dan air mata bercucuran." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Mengapa nasihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam begitu membekas hingga menggetarkan jiwa dan meneteskan air mata para sahabat? Para ulama menjelaskan tiga sebab utamanya:

Keikhlasan Penyampainya

Nasihat yang keluar dari hati yang ikhlas karena Allah—bukan karena tendensi duniawi atau kepentingan pribadi—akan langsung menyentuh hati pendengarnya. Sebagaimana ungkapan para ulama hikmah, sesuatu yang keluar dari hati akan sampai ke hati, sedangkan yang hanya keluar dari lisan hanya akan berhenti di telinga.

Kedalaman Makna dan Isi

Nasihat yang disampaikan bukanlah obrolan kosong tanpa bobot, melainkan bersumber dari wahyu Allah dan petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang sarat akan kebenaran.

Cara Penyampaian yang Baik dan Bersemangat

Nasihat disampaikan dengan adab yang mulia, penuh semangat, dan kalimat yang indah. Tidak disampaikan dengan arogansi dan kemarahan, namun tidak pula disampaikan dengan lesu dan malas-malasan.

Empat Wasiat Perpisahan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam

Merasa bahwa wejangan tersebut seolah-olah adalah nasihat perpisahan menjelang wafatnya beliau, para sahabat pun meminta wasiat tambahan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ

Artinya: "Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah 'Azza wa Jalla, tetap mendengar dan taat (kepada pemimpin) walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, ia akan melihat perselisihan yang sangat banyak. Maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk; gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama)." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Hadis yang agung ini merangkum empat pilar keselamatan seorang muslim, terlebih saat menghadapi ujian di akhir zaman:

Bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala

Takwa adalah wasiat Allah kepada seluruh umat terdahulu maupun umat saat ini, sebagaimana firman-Nya:

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

Artinya: "Dan sungguh, Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu sendiri, agar bertakwa kepada Allah." (QS. An-Nisa': 131)

Takwa berarti menjadikan benteng pelindung antara diri kita dengan azab Allah melalui ketaatan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kemuliaan seorang manusia di sisi Allah tidak diukur dari harta, fisik, atau jabatannya, melainkan dari ketakwaannya:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)

Allah juga menjanjikan jalan keluar, rezeki yang tak terduga, serta kemudahan urusan bagi siapa saja yang bertakwa:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Artinya: "Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

Artinya: "Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS. Ath-Thalaq: 4)

Mendengar dan Taat kepada Pemimpin dalam Kebaikan

Seorang muslim wajib mendengar dan taat kepada pemerintah atau pemimpin kaum muslimin selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat kepada Allah. Bersabar atas kekurangan pemimpin, menasihati dengan cara yang bijak sesuai kemampuan, serta mendoakan kebaikan bagi pemimpin dan penduduk negeri merupakan prinsip Ahlussunnah wal Jama'ah demi menjaga keamanan dan kemaslahatan bersama.

Kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah Saat Terjadi Perselisihan

Perselisihan di tengah umat adalah ketetapan yang pasti terjadi. Satu-satunya solusi untuk menyatukan hati dan menyelesaikan pertikaian adalah mengembalikannya kepada Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas pemahaman para sahabat (Khulafaur Rasyidin). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

Artinya: "Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya)." (QS. An-Nisa': 59)

Menjauhi Perkara Baru yang Diada-adakan dalam Agama (Bid'ah)

Dalam urusan dunia dan teknologi, umat Islam silakan berinovasi. Namun dalam urusan akidah dan ibadah, syariat Islam telah sempurna. Setiap amalan ibadah harus memiliki dasar tuntunan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam agar diterima di sisi Allah:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Artinya: "Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya (tuntunannya) dari kami, maka amalan tersebut tertolak." (HR. Muslim)

Lampiran Tanya Jawab: Hukum Berpuasa Setahun Penuh Tanpa Henti

Di penghujung kajian, dibahas sebuah pertanyaan mengenai hukum berpuasa setiap hari selama satu tahun penuh tanpa berbuka (wishal/puasa dahr) yang terkadang diamalkan oleh kelompok tertentu:

Larangan Puasa Sepanjang Tahun (Shiyamud Dahr)

Semangat yang tinggi dalam beribadah harus selalu dibimbing oleh sunnah Nabi, bukan mengikuti hawa nafsu atau aturan yang dibuat-buat oleh manusia. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam secara tegas melarang puasa terus-menerus sepanjang tahun:

لَا صَامَ مَنْ صَامَ الأَبَدَ

Artinya: "Tidak dianggap berpuasa orang yang berpuasa sepanjang masa (terus-menerus setiap hari)." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu juga memberikan kaidah emas tentang pentingnya bersikap pertengahan sesuai sunnah:

الاِقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الاِجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ

Artinya: "Bersikap pertengahan (sederhana) di atas sunnah itu jauh lebih baik daripada bersungguh-sungguh di dalam bid'ah (amalan yang menyelisihi tuntunan Nabi)."

Batas Maksimal Puasa Sunnah adalah Puasa Nabi Daud

Ketika ada sahabat yang merasa kuat dan ingin terus-menerus berpuasa, Rasulullah mengarahkannya secara bertahap: mulai dari berpuasa tiga hari setiap bulan (yang pahalanya setara dengan puasa setahun penuh), berpuasa pada hari Senin dan Kamis, hingga batas maksimal yang tidak boleh dilampaui lagi, yaitu puasa Nabi Daud 'alaihissalam (sehari berpuasa dan sehari berbuka):

أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ، كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

Artinya: "Puasa yang paling dicintai oleh Allah adalah puasa Daud; beliau berpuasa sehari dan berbuka (tidak puasa) sehari." (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitu pula ketika ada tiga orang sahabat yang berniat melakukan ibadah ekstrem (tidak ingin menikah selamanya, tidak ingin tidur malam selamanya demi tahajud, dan ingin berpuasa terus-menerus tanpa henti), Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menegur mereka dengan sabdanya:

أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Artinya: "Ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka, aku shalat malam dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Barang siapa yang membenci (berpaling dari) sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku." (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa membimbing kita untuk meniti jalan pertengahan di atas sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, menjaga ketakwaan, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Wallahu a'lam bish-shawab.

Blog

Berita Lainnya

Pertengahan (Proporsional) dalam Memberikan Nasihat: Hikmah dari Kisah Mu'awiyah bin Al-Hakam
Rab, 4 November 2026 | 12:04 pm
Meneladani Sikap Tenang dan Berwibawa (Al-Waqar wa As-Sakinah) dalam Islam
Rab, 4 November 2026 | 11:15 am
Seni Menjaga Lisan: Berkata Baik atau Diam sebagai Kunci Keselamatan
Sen, 26 Oktober 2026 | 12:18 pm
Bahaya Tersembunyi: Dosa Lisan di Balik Candaan dan Janji Sepele
Sen, 26 Oktober 2026 | 12:18 pm