KEUTAMAAN BULAN MUHARRAM
Ming, 28 Juli 2024 2:04

Keutamaan Bulan Muharram
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, penutup para nabi dan pemimpin para rasul, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.
Bulan Muharram adalah bulan yang sangat mulia dan diberkahi, serta merupakan bulan pertama dalam kalender hijriyah. Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ .. الآية (36) سورة التوبة
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi; di antaranya terdapat empat bulan haram. Itulah agama yang lurus; maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu…” (QS. At-Taubah: 36)
Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahun itu ada dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan haram; tiga berturut-turut: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR. Bukhari 2958)
Alasan Penamaan Muharram
Bulan ini dinamakan Muharram karena merupakan bulan yang diharamkan (untuk berperang) dan untuk menegaskan kehormatannya.
Allah berfirman: “…maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu…” Artinya, di bulan-bulan haram ini, dosa yang dilakukan lebih besar dari dosa pada bulan-bulan lainnya.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan firman Allah: “…maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu…” yaitu di seluruh bulan haram, dan menjadikannya bulan-bulan yang haram serta mengagungkan kehormatannya. Maka dosa di dalamnya lebih besar, dan amal shaleh serta pahala juga lebih besar. Qatadah berkata: “Sesungguhnya kedzaliman di bulan-bulan haram lebih besar dosa dan beban daripada kedzaliman di bulan-bulan lain. Namun, Allah mengagungkan apa yang Dia kehendaki.” Dia juga berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih pilihan-pilihan terbaik dari makhluk-Nya: Dia memilih rasul dari malaikat, rasul dari manusia, memilih dzikir sebagai ucapan yang paling mulia, memilih masjid sebagai tempat yang paling mulia di bumi, memilih Ramadan dan bulan-bulan haram, memilih hari Jumat di antara hari-hari, dan memilih malam Lailatul Qadar di antara malam-malam. Maka, agungkanlah apa yang Allah agungkan. Hanya mereka yang memiliki pemahaman dan akal yang akan mengagungkan hal-hal yang Allah agungkan.” Demikian disimpulkan dari Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surat At-Taubah ayat 36.
Keutamaan Memperbanyak Puasa Sunnah di Bulan Muharram
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, Muharram.” (HR. Muslim 1982)
Penambahan “bulan Allah” menunjukkan kehormatan bulan tersebut. Al-Qari mengatakan bahwa yang dimaksud adalah seluruh bulan Muharram.
Namun, telah diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadan. Maka, hadits ini dimaksudkan untuk mendorong memperbanyak puasa di bulan Muharram, bukan untuk berpuasa seluruhnya.
Diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, mungkin karena keutamaan bulan Muharram baru diwahyukan di akhir kehidupan beliau sebelum beliau sempat memperbanyak puasa di bulan tersebut. (Syarah Nawawi rahimahullah atas Shahih Muslim)
Allah Memilih Waktu dan Tempat yang Dikehendaki-Nya
Al-Izz bin Abdus Salam rahimahullah berkata: “Keutamaan tempat dan waktu terbagi dua: Pertama, yang bersifat duniawi… Kedua, yang bersifat keagamaan, yang kembali kepada bahwa Allah memberikan anugerah kepada hamba-Nya di waktu-waktu tersebut dengan pahala yang besar, seperti keutamaan puasa di bulan Ramadan dibandingkan dengan puasa di bulan-bulan lainnya, dan demikian juga hari Asyura. Maka keutamaannya kembali kepada anugerah Allah dan kebaikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya pada waktu-waktu tersebut.” (Qawaidul Ahkam 1/38)
Dan shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.
Sumber diterjemahkan dari https://islamqa.info/ar/answers/204142/%D9%81%D8%B6%D9%84-%D8%B4%D9%87%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%AD%D8%B1%D9%85
Artikel dan Kajian