Dosa-Dosa Lisan yang Sering Tidak Disadari dalam Kehidupan Sehari-hari
Dosa-Dosa Lisan yang Sering Tidak Disadari dalam Kehidupan Sehari-hari
Diterbitkan Pada :
Sen, 26 Oktober 2026
Diterbitkan Oleh :
abuluqman
Ketika Ucapan yang Terlihat Sepele Menjadi Sebab Datangnya Dosa

Lisan adalah salah satu anggota tubuh manusia yang paling kecil, tetapi pengaruhnya begitu besar. Dengannya, seseorang dapat meraih pahala, menyebarkan kebaikan, menghibur hati yang terluka, dan mengajak manusia menuju jalan Allah.

Namun, melalui lisan pula seseorang dapat terjerumus ke dalam dosa, menyakiti saudaranya, merusak amal kebaikan, bahkan mengucapkan sesuatu yang mendatangkan kemurkaan Allah.

Betapa banyak orang yang berhati-hati dalam menjaga makanan dan hartanya dari perkara haram, tetapi justru lalai menjaga setiap perkataan yang keluar dari mulutnya.

Padahal Allah ﷻ telah mengingatkan:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” QS. Qaf: 18
Ayat ini mengingatkan kita bahwa tidak ada ucapan yang luput dari pengawasan Allah. Perkataan yang telah kita lupakan sekalipun tetap berada dalam catatan amal kita.

Di antara dosa-dosa lisan yang sering tidak disadari adalah sebagai berikut.

1. Ghibah Terselubung: Membicarakan Aib dengan Dalih Nasihat

Tidak semua ghibah disampaikan dengan nada kebencian. Ada yang dibungkus dengan ungkapan kepedulian, keprihatinan, bahkan nasihat.

Seseorang mungkin berkata:

“Saya sebenarnya tidak ingin membicarakan keburukannya, tetapi kasihan dengan sikapnya.”

Atau:

“Saya hanya ingin bercerita, supaya kamu tahu bagaimana sifat orang itu.”

Kemudian ia mulai membuka kekurangan, kesalahan, dan aib saudaranya kepada orang lain yang sebenarnya tidak berkepentingan.

Tanpa disadari, perkataan yang dianggap sebagai nasihat itu justru berubah menjadi ghibah.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ “Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.” QS. Al-Hujurat: 12

Rasulullah ﷺ menjelaskan hakikat ghibah:

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ “Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang tidak disukainya.” HR. Muslim no. 2589

Bahkan ketika seseorang mengatakan sesuatu yang benar mengenai keburukan saudaranya, hal itu tetap dapat termasuk ghibah.

Namun, tidak setiap pembicaraan tentang kekurangan orang lain otomatis terlarang. Ada keadaan yang dibenarkan syariat, seperti mengadukan kezaliman, meminta fatwa, memperingatkan orang dari bahaya yang nyata, atau meminta bantuan untuk menghentikan kemungkaran, dengan batasan yang diperlukan.

Karena itu, sebelum menceritakan kesalahan seseorang, tanyakan kepada diri sendiri:

Apakah saya benar-benar ingin mencari penyelesaian, atau hanya ingin orang lain mengetahui keburukannya?

Jangan sampai niat yang tampaknya baik dijadikan alasan untuk membuka aib saudara sendiri.

2. Riya dan Sum’ah: Menceritakan Amal agar Mendapat Pujian

Tidak semua dosa lisan berkaitan dengan mencela orang lain. Terkadang, seseorang justru terjerumus ke dalam dosa ketika membicarakan kebaikan dirinya sendiri.

Misalnya, seseorang berkata:

“Semalam saya hampir tidak tidur karena tahajud.”

“Alhamdulillah, saya rutin bersedekah dalam jumlah yang cukup besar.”

“Saya sering bergaul dengan para ulama dan orang-orang saleh.”

Ucapan semacam ini tidak otomatis berdosa. Namun, apabila disampaikan dengan tujuan agar orang lain mengagumi ibadah dan kesalehannya, maka ia telah terjatuh dalam bahaya riya atau sum’ah, yaitu memperdengarkan amal agar memperoleh pujian.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ “Barang siapa memperdengarkan amalnya agar dipuji, Allah akan memperdengarkan (hakikat niatnya). Dan barang siapa berbuat riya, Allah akan menampakkan (hakikat niatnya).” HR. Bukhari no. 6499

Betapa besar kerugian seseorang yang telah bersusah payah melakukan ibadah, tetapi kemudian merusak keikhlasannya karena mengharapkan sanjungan manusia.

Amal yang semestinya menjadi rahasia antara dirinya dengan Allah justru dijadikan sarana untuk memperoleh kedudukan di hati manusia.

Padahal, pujian manusia tidak dapat menggantikan keridaan Allah.

Meski demikian, menceritakan amal tidak selalu tercela. Terkadang seseorang menyampaikan pengalamannya untuk mengajarkan kebaikan, memberikan motivasi, atau menjelaskan nikmat Allah. Yang harus diperhatikan adalah niat serta tujuan di balik penyampaiannya.

Jangan sampai kita lebih bahagia ketika manusia mengetahui amal kita daripada ketika mengingat bahwa Allah mengetahuinya.

3. Mengeluh hingga Mencela Takdir Allah

Kehidupan dunia tidak pernah terlepas dari ujian.

Ada kalanya seseorang menghadapi kesulitan ekonomi, penyakit, kegagalan, kehilangan, atau berbagai keadaan yang tidak sesuai dengan harapannya.

Namun, ketika ujian datang, lisan sering kali lebih cepat mengeluh daripada mengingat hikmah dan ketetapan Allah.

Sebagian orang bahkan mengucapkan perkataan seperti:

“Mengapa Allah memberikan kehidupan seburuk ini kepada saya?”

“Saya sudah beribadah, tetapi mengapa Allah tidak adil kepada saya?”

Ucapan yang menuduh Allah tidak adil merupakan perkara yang sangat berbahaya bagi keimanan.

Padahal Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ “Sesungguhnya Allah tidak menzalimi seseorang walaupun sebesar zarah.” QS. An-Nisa: 40

Akan tetapi, perlu dipahami bahwa tidak semua keluhan adalah dosa. Mengungkapkan rasa sakit, kesedihan, atau kesulitan untuk memperoleh pertolongan bukanlah sesuatu yang otomatis tercela.

Bahkan ketika putra beliau, Ibrahim, meninggal dunia, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا “Sesungguhnya mata menangis dan hati bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali sesuatu yang diridai oleh Rabb kami.” HR. Bukhari no. 1303

Hadis ini mengajarkan keseimbangan yang indah.

Islam tidak melarang manusia bersedih. Islam tidak menuntut seseorang untuk berpura-pura kuat ketika sedang mengalami penderitaan.

Namun, Islam mengajarkan agar kesedihan tidak menyeret lisan kepada perkataan yang menunjukkan kebencian terhadap ketetapan Allah atau tuduhan buruk terhadap-Nya.

Orang beriman boleh menangis, boleh merasa lelah, dan boleh meminta pertolongan. Akan tetapi, ia tetap berusaha menjaga adab kepada Allah dalam setiap keadaan.

Sabar bukan berarti tidak merasakan kesedihan, melainkan menjaga hati dan lisan agar tidak melampaui batas ketika menghadapi ujian.

Penutup: Jagalah Lisan Sebelum Menjadi Penyesalan

Saudaraku, terkadang dosa yang paling perlu kita waspadai bukanlah dosa yang tampak besar di hadapan manusia, melainkan dosa yang terus berulang karena dianggap sepele.

Kita mungkin tidak pernah berniat merendahkan seseorang, tetapi tanpa sadar telah menyebarkan aibnya.

Kita mungkin telah melakukan banyak amal saleh, tetapi kemudian mengurangi keikhlasannya dengan mencari pujian.

Kita mungkin mengaku beriman kepada takdir Allah, tetapi ketika ujian datang, lisan justru mengucapkan sesuatu yang tidak pantas terhadap-Nya.

Karena itu, marilah kita membiasakan diri untuk berpikir sebelum berbicara.

Apakah ucapan ini benar?

Apakah ucapan ini bermanfaat?

Apakah ucapan ini diridai oleh Allah?

Jangan hanya menjaga lisan ketika sedang berada di masjid atau menghadiri majelis ilmu. Jagalah pula ketika berbincang bersama teman, berkumpul dengan keluarga, menulis komentar di media sosial, atau mengirimkan pesan yang dianggap tidak penting.

Sebab setiap ucapan memiliki konsekuensi, dan setiap manusia akan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan amalnya.

Lisan yang kecil dapat menjadi jalan menuju surga, tetapi dapat pula menjadi sebab seseorang terjerumus ke dalam kebinasaan.

Maka, sebelum kita sibuk membicarakan kesalahan orang lain, periksalah kesalahan diri sendiri. Sebelum menceritakan amal kebaikan, periksalah keikhlasan hati. Dan sebelum mengeluhkan takdir, ingatlah bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Semoga Allah menjaga lisan kita dari ghibah, riya, sum’ah, serta segala ucapan yang mendatangkan kemurkaan-Nya.

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

Blog

Berita Lainnya

Pertengahan (Proporsional) dalam Memberikan Nasihat: Hikmah dari Kisah Mu'awiyah bin Al-Hakam
Rab, 4 November 2026 | 12:04 pm
Bersikap Pertengahan dalam Memberikan Nasihat dan Wasiat Agung Rasulullah di Akhir...
Rab, 4 November 2026 | 11:49 am
Meneladani Sikap Tenang dan Berwibawa (Al-Waqar wa As-Sakinah) dalam Islam
Rab, 4 November 2026 | 11:15 am
Seni Menjaga Lisan: Berkata Baik atau Diam sebagai Kunci Keselamatan
Sen, 26 Oktober 2026 | 12:18 pm