Rab, 27 Mei 2026
abuluqman
Ibrahim bin Adham adalah salah satu tokoh zuhud yang kisahnya abadi dalam sejarah Islam. Lahir dari keluarga bangsawan dan raja di wilayah Balkh (Khurasan), ia meninggalkan segala kemewahan duniawi, menukar jubah kebesarannya dengan pakaian gembala, dan mengembara ke negeri Syam semata-mata demi mencari rezeki yang benar-benar murni dan halal, hingga ia wafat di negeri Romawi pada tahun 161 Hijriah.
Perjalanan spiritualnya bermula dari sebuah teguran Ilahi. Suatu hari, saat sedang berburu menggunakan kuda dan anjing kesayangannya, ia memacu kudanya untuk mengejar seekor kelinci atau rubah. Di tengah perburuan, sebuah suara tak kasat mata memanggilnya dari belakang: "Bukan untuk ini engkau diciptakan, dan bukan untuk ini engkau diperintahkan." Sempat mengira itu adalah bisikan iblis, suara tersebut kembali terdengar jauh lebih keras.
Puncaknya, teguran itu muncul tepat dari pelana kudanya. Kesadaran Ibrahim seketika tergugah. Ia menyadari datangnya peringatan dari Tuhan Semesta Alam. Dalam riwayat lain, ia mendengar seruan yang mengingatkannya pada firman Allah (QS. Al-Mu'minun: 115): "Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?"
Seketika itu juga ia bertobat, melepaskan kudanya, mendatangi seorang penggembala milik ayahnya, dan menukar pakaian mewahnya dengan jubah kasar. Ia meninggalkan status kebangsawanannya dan berjalan menuju Irak untuk bekerja. Namun, karena merasa kesulitan memastikan rezeki yang benar-benar bersih dari syubhat di sana, ia bertanya kepada para ulama dan disarankan pergi ke Syam. Ia pun menuju Tarsus, sebuah wilayah yang dikenal memiliki banyak pekerjaan murni.
Di Tarsus, Ibrahim bekerja sebagai penjaga dan perawat kebun. Integritas dan kezuhudannya terbukti dalam sebuah peristiwa bersejarah. Suatu hari, majikan kebun datang bersama rombongannya dan memerintahkan Ibrahim membawakan buah delima yang paling besar dan manis. Ibrahim memetik delima terbaik, namun saat dibelah oleh sang majikan, rasanya asam.
Sang majikan menegur keras: "Kamu sudah sekian lama bekerja di kebun kami dan memakan buahnya, tapi tidak bisa membedakan mana yang manis dan yang asam?"
Dengan tenang dan jujur Ibrahim menjawab: "Demi Allah, saya sama sekali tidak pernah memakan buah dari kebunmu ini, sehingga saya tidak tahu mana yang manis dan mana yang asam."
Mendengar hal itu, sang majikan takjub dan berkata kepada teman-temannya: "Seandainya dia adalah Ibrahim bin Adham, niscaya ia tidak akan bisa lebih zuhud dari orang ini!" Keesokan harinya, ciri-ciri Ibrahim diperbincangkan di masjid dan orang-orang mulai menyadari identitas aslinya. Begitu melihat gelagat orang-orang yang mulai mendatanginya untuk memberi penghormatan, Ibrahim bersembunyi di balik pepohonan dan memilih pergi meninggalkan Tarsus demi menyelamatkan keikhlasannya dari popularitas.
Kesalehan Ibrahim bin Adham sejatinya telah berakar dari sang ayah, Adham, yang juga seorang pria saleh. Saat Ibrahim lahir di Makkah, ayahnya membawa bayi yang masih terbungkus kain itu berkeliling menemui para ahli ibadah dan orang-orang zuhud di Tanah Suci, meminta mereka mendoakan kebaikan bagi putranya. Doa-doa tulus di Makkah itulah yang kelak dijawab oleh Allah, mengubah seorang pangeran Khurasan menjadi teladan abadi dalam kejujuran, pencarian rezeki halal, dan ketakwaan.
Berita Lainnya
- Bagikan Berita Via