Meneladani Sikap Tenang dan Berwibawa (Al-Waqar wa As-Sakinah) dalam Islam
Meneladani Sikap Tenang dan Berwibawa (Al-Waqar wa As-Sakinah) dalam Islam
Diterbitkan Pada :
Rab, 4 November 2026
Diterbitkan Oleh :
abuluqman

Islam adalah agama yang sempurna. Tidak hanya mengatur urusan ibadah ritual antara hamba dengan Penciptanya, tetapi juga membimbing umatnya dalam bersikap, bertutur kata, dan berperilaku sehari-hari. Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi, terdapat satu bab khusus yang membahas tentang kemuliaan akhlak seorang mukmin, yaitu Babul Waqar was Sakinah (Bab Berwibawa dan Tenang).

Secara bahasa, Al-Waqar berarti berwibawa, bersahaja, dan penuh dengan kesantunan. Sedangkan As-Sakinah berarti tenang, mantap, dan tidak tergesa-gesa dalam bersikap maupun mengambil keputusan. Kedua sifat ini merupakan cerminan kesempurnaan iman dan kebijaksanaan seorang muslim.

Hakikat Wibawa dan Ketenangan Seorang Mukmin

Sikap tenang dan berwibawa sejatinya selaras dengan sifat yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu bijaksana dan tidak terburu-buru. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memuji sahabat Abdullah bin Qais (Asyaj Abdul Qais) dengan sabdanya:

إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ

Artinya: “Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua perangai yang dicintai oleh Allah, yaitu al-hilm (bijaksana/santun) dan al-anah (tidak tergesa-gesa).” (HR. Muslim)

Ulama menjelaskan bahwa seorang hamba yang beriman sudah sepatutnya menjaga wibawa dirinya, tampak disegani namun tetap santun, senantiasa menimbang segala urusan dengan matang, tidak mudah terpancing oleh hal-hal yang baru muncul, serta tidak mudah gelisah oleh berbagai syubhat atau kabar yang belum jelas.

Seorang mukmin selalu berada di pertengahan (wasathiyah) dalam segala urusan—tidak berlebihan (ifrath) dan tidak pula meremehkan (tafrith). Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini tercermin dalam beberapa aspek:

Cara Berjalan dan Berbicara

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berjalan, langkahnya tegap dan mantap. Beliau tidak berlari terburu-buru, namun tidak pula berjalan terlalu lambat seperti orang yang bermalas-malasan. Begitu pula dalam berbicara, kalimat beliau terukur, jelas, tidak terlalu cepat, dan tidak dibuat-buat.

Menjaga Kehormatan Diri dalam Pergaulan

Menjaga wibawa berarti menempatkan sesuatu pada porsinya. Jika seseorang terus-menerus bercanda setiap kali bertemu orang lain, maka wibawanya akan jatuh. Sebaliknya, jika seseorang tidak pernah tersenyum dan selalu memasang wajah kaku setiap saat, orang-orang di sekitarnya akan merasa takut dan enggan mendekat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesekali bercanda dengan para sahabatnya tanpa berkata dusta, namun tetap serius dan tegas pada waktunya.

Bijak dalam Menyikapi Berita dan Masalah

Ketika menerima kabar, aduan, atau menghadapi masalah—baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun masyarakat—seorang muslim yang memiliki sifat sakinah tidak akan menelannya mentah-mentah. Ia akan melakukan tabayyun (cek dan ricek), mendengarkan penjelasan dari berbagai sisi, dan memikirkan solusinya dengan kepala dingin. Bahkan saat terjadi musibah mendadak, ketenangan hati yang terhubung dengan Allah akan membantunya berpikir jernih untuk mencari jalan keluar, karena kepanikan yang berlebihan hanya akan menutup akal sehat.

Dalil Al-Qur’an: Karakter ‘Ibadurrahman

Karakter tenang, rendah hati, dan berwibawa ini merupakan ciri utama dari hamba-hamba Allah yang Maha Pengasih (‘Ibadurrahman), sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Al-Furqan ayat 63:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Artinya: “Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan ‘salam’ (kata-kata yang mengandung keselamatan).” (QS. Al-Furqan: 63) Ayat ini juga selaras dengan larangan berjalan dengan angkuh dalam Surah Al-Isra ayat 37:

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا

Artinya: “Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong.” (QS. Al-Isra: 37) Dari ayat di atas, terdapat dua pelajaran besar yang harus diamalkan oleh setiap muslim:

Pertama, Tawadhu’ (Rendah Hati, Bukan Rendah Diri). Berjalan dengan haunan artinya menjalani hidup dan melangkah di muka bumi dengan tenang, santun, dan berwibawa tanpa kesombongan. Penting untuk dibedakan antara rendah hati dan rendah diri. Islam memerintahkan umatnya untuk rendah hati (tidak angkuh dan tidak menzalimi orang lain), namun melarang umatnya bersikap rendah diri (menghinakan diri sendiri), karena orang beriman memiliki kemuliaan dan derajat yang tinggi di sisi Allah.

Kedua, Tidak Terpancing Provokasi Orang Bodoh. Ketika dicaci, diejek, atau diprovokasi oleh orang-orang jahil—baik secara langsung maupun melalui komentar di media sosial—hamba Allah yang mulia tidak akan membalas keburukan tersebut dengan keburukan yang setara. Mengatasi api kemarahan harus dengan air kesabaran, bukan disiram dengan bensin permusuhan. Mereka memilih berpaling, memaafkan, dan mengucapkan perkataan yang baik demi menjaga kehormatan dan keselamatan diri.

Dalil Sunnah: Kesederhanaan Rasulullah dalam Tertawa dan Bersedih

Wibawa dan ketenangan seorang mukmin juga tampak dalam cara mengelola emosi, baik di kala senang maupun saat berduka. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga wibawanya saat tertawa:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَجْمِعًا قَطُّ ضَاحِكًا حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ إِنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ

Artinya: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga terlihat anak lidahnya (langit-langit mulut bagian dalam), melainkan beliau hanya tersenyum.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitu pula ketika ditimpa musibah kesedihan, seorang muslim tidak boleh kehilangan ketenangannya hingga melakukan niyahah (meratap secara histeris). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

Artinya: “Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar-nampar pipi, merobek-robek pakaian, dan menyeru dengan seruan jahiliyah (saat ditimpa musibah).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Islam tidak melarang seseorang menangis saat bersedih, namun melarang sikap berlebihan yang menunjukkan ketidakridhaan terhadap takdir Allah. Saat putra beliau, Ibrahim, wafat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meneteskan air mata tanpa meratap, seraya bersabda:

إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ

Artinya: “Sesungguhnya mata ini meneteskan air mata dan hati ini bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kami. Dan sesungguhnya kami sangat bersedih atas perpisahan denganmu, wahai Ibrahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan, tuntunan untuk bersikap tenang (sakinah dan waqar) ini juga berlaku dalam urusan ibadah. Ketika berangkat menuju masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah atau menghadiri majelis ilmu, seorang muslim diperintahkan untuk berjalan dengan tenang dan tidak berlari tergesa-gesa meskipun hanya demi mengejar rukuk bersama imam.

Catatan Tambahan: Menjaga Wibawa dan Kehormatan di Media Sosial (Hukum Foto)

Bagian dari menjaga kehormatan dan ketenangan hidup di era modern adalah bijak dalam menyikapi dokumentasi foto dan penggunaan media sosial:

Menyimpan Foto Cetak vs Digital

Syariat Islam memberikan peringatan keras terkait pembuatan dan pemajangan gambar makhluk bernyawa (terutama lukisan dan patung), sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

Artinya: “Sesungguhnya manusia yang paling berat azabnya di sisi Allah pada hari kiamat adalah para penggambar (makhluk bernyawa).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim menghindari memajang foto-foto makhluk bernyawa yang dicetak di dinding rumah. Adapun menyimpan foto dalam bentuk file digital (di dalam memori ponsel, komputer, atau penyimpanan cloud), para ulama menjelaskan bahwa hukumnya lebih ringan karena sifatnya seperti bayangan pada cermin yang hanya muncul ketika dibuka dan dibutuhkan.

Menahan Diri dari Mengunggah Foto Diri dan Keluarga ke Publik

Seorang muslim hendaknya tidak bermudah-mudahan mengunggah foto diri, pasangan, atau anak-anak ke media sosial (seperti menjadikannya foto profil WhatsApp, mengunggah ke Instagram, atau Facebook) tanpa ada kebutuhan yang jelas. Hal ini berpijak pada kaidah agung yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Artinya: “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)

Mengumbar foto diri dan keluarga di ruang publik tanpa ada manfaat syar’i dikhawatirkan dapat membuka pintu fitnah (dipandang oleh lawan jenis yang bukan mahram), menumbuhkan sifat pamer (riya’), serta rentan mendatangkan bahaya penyakit ‘ain (pandangan mata buruk yang disertai rasa dengki atau kekaguman tanpa berdzikir menyebut nama Allah).

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan taufik dan pertolongan-Nya kepada kita semua untuk dapat menghiasi diri dengan sifat al-waqar (berwibawa) dan as-sakinah (tenang), serta meneladani akhlak mulia Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap aspek kehidupan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Blog

Berita Lainnya

Pertengahan (Proporsional) dalam Memberikan Nasihat: Hikmah dari Kisah Mu'awiyah bin Al-Hakam
Rab, 4 November 2026 | 12:04 pm
Bersikap Pertengahan dalam Memberikan Nasihat dan Wasiat Agung Rasulullah di Akhir...
Rab, 4 November 2026 | 11:49 am
Seni Menjaga Lisan: Berkata Baik atau Diam sebagai Kunci Keselamatan
Sen, 26 Oktober 2026 | 12:18 pm
Bahaya Tersembunyi: Dosa Lisan di Balik Candaan dan Janji Sepele
Sen, 26 Oktober 2026 | 12:18 pm