Pertengahan (Proporsional) dalam Memberikan Nasihat: Hikmah dari Kisah Mu’awiyah bin Al-Hakam
Pertengahan (Proporsional) dalam Memberikan Nasihat: Hikmah dari Kisah Mu'awiyah bin Al-Hakam
Diterbitkan Pada :
Rab, 4 November 2026
Diterbitkan Oleh :
abuluqman

Pendahuluan: Jalan Keselamatan dan Cahaya Ilmu

Sejatinya, Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa menginginkan hamba-hamba-Nya selamat di dunia dan akhirat. Jalan petunjuk telah dibuka lebar dan dipermudah dengan diturunkannya cahaya ilmu melalui syariat yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ. Ilmu inilah yang mengeluarkan manusia dari gelapnya kejahilan menuju terangnya hidayah, sebagaimana firman Allah:

يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Artinya: "Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." (QS. Al-Maidah: 16)

Pentingnya Menjaga Salat Berjamaah

Salah satu bentuk ketaatan yang sangat dianjurkan adalah menjaga salat lima waktu berjamaah di masjid. Di zaman Nabi ﷺ, indikator keimanan seseorang dapat dinilai dari kedisiplinannya hadir dalam salat berjamaah. Orang yang malas berjamaah kerap dikaitkan dengan sifat kemunafikan. Allah mencela sifat malas ini dalam firman-Nya:

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ

Artinya: "Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas." (QS. An-Nisa: 142)

Sebaliknya, seseorang yang senantiasa bolak-balik ke rumah Allah akan dijamin mendapatkan naungan kelak di Padang Mahsyar, sebagaimana disabdakan oleh Nabi ﷺ:

وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ

Artinya: "Dan seorang laki-laki yang hatinya terpaut ke masjid." (HR. Bukhari & Muslim)

Kisah Mu'awiyah bin Al-Hakam: Kesalahan Akibat Ketidaktahuan

Di dalam Riyadhus Shalihin Bab Pertengahan Dalam Memberikan Nasihat, terdapat sebuah kisah inspiratif dari sahabat Mu'awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu 'anhu. Saat ia baru saja memeluk Islam dan belum sempurna ilmunya, ia ikut salat berjamaah di belakang Rasulullah ﷺ.

Di tengah salat, ada seorang jamaah yang bersin. Tanpa ragu, Mu'awiyah membalasnya dengan ucapan "Yarhamukallah", padahal saat salat dilarang keras berbicara. Para sahabat yang lain refleks memandangnya dengan tajam (sebagai isyarat agar ia diam). Karena tidak paham, Mu'awiyah justru membalas pandangan mereka dan berseru:

وَاثُكْلَ أُمِّيَاهْ، مَا شَأْنُكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَيَّ؟

Artinya: "Aduh, celakalah ibuku! Ada apa dengan kalian, mengapa kalian memandangku?"

Mendengar keributan tersebut, para sahabat pun menepuk paha mereka untuk memberi teguran tanpa harus bersuara. Barulah saat itu Mu'awiyah mengerti bahwa ia disuruh diam.

Sikap Lembut Rasulullah ﷺ dalam Mendidik

Setelah salat selesai, Mu'awiyah sudah diliputi ketakutan. Di benaknya, ia akan diusir, dibentak, atau dimarahi habis-habisan oleh Rasulullah ﷺ atas keributan yang ia buat. Namun, yang terjadi sangat jauh dari bayangannya. Mu'awiyah bercerita:

"Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pendidik sebelum maupun sesudahnya yang lebih baik dari beliau ﷺ. Beliau sama sekali tidak membentakku, tidak memukulku, dan tidak mencaciku."

Nabi ﷺ tidak membiarkan kesalahannya, namun meluruskannya dengan penuh hikmah. Beliau ﷺ menasihati:

إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ، إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ

Artinya: "Sesungguhnya salat ini tidak sepantasnya di dalamnya ada sedikit pun dari perkataan manusia. Salat itu hanyalah tasbih, takbir, dan membaca Al-Qur'an." (HR. Muslim)

Meninggalkan Praktik Dukun dan Tatayyur

Mendapati kelembutan pendidiknya, Mu'awiyah merasa sangat nyaman. Ia kemudian memberanikan diri berkonsultasi mengenai tradisi-tradisi jahiliah yang dahulu sering dilakukan kaumnya.

1. Mendatangi Dukun

Mu'awiyah bertanya mengenai kebiasaan orang jahiliah yang gemar mendatangi dukun atau tukang ramal untuk bertanya perkara gaib (seperti barang hilang atau nasib). Rasulullah ﷺ dengan tegas melarang hal tersebut:

فَلَا تَأْتِهِمْ

Artinya: "Maka janganlah engkau mendatangi mereka (para dukun)."

2. Tatayyur (Anggapan Sial)

Mu'awiyah juga bertanya tentang Tatayyur, yakni kebiasaan mengaitkan kesialan dengan pertanda alam, seperti arah terbang burung, suara hewan (seperti tokek atau burung hantu), larangan menikah di bulan Safar, atau keyakinan pada fengsui. Rasulullah ﷺ membantah dan melarang keyakinan tersebut:

ذَلِكَ شَيْءٌ يَجِدُونَهُ فِي صُدُورِهِمْ فَلَا يَصُدَّنَّهُمْ

Artinya: "Itu hanyalah sesuatu yang mereka dapati (perasaan was-was) dalam dada mereka, maka janganlah hal itu menghalangi mereka (dari niat dan tujuannya)."

Kesimpulan

Kisah Mu'awiyah bin Al-Hakam mengajarkan kita prinsip pertengahan (proporsional) dalam berdakwah dan memberikan nasihat. Suatu kesalahan tidak boleh didiamkan, karena diam di atas kesalahan adalah sebuah kekeliruan. Namun, cara menegurnya tidak boleh berlebihan. Seseorang yang berbuat salah karena tidak tahu (jahil) tidak pantas dicaci maki; ia harus dirangkul dan diajari (yu'allam) dengan penuh kelembutan, persis seperti yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah ﷺ.

Blog

Berita Lainnya

Bersikap Pertengahan dalam Memberikan Nasihat dan Wasiat Agung Rasulullah di Akhir...
Rab, 4 November 2026 | 11:49 am
Meneladani Sikap Tenang dan Berwibawa (Al-Waqar wa As-Sakinah) dalam Islam
Rab, 4 November 2026 | 11:15 am
Seni Menjaga Lisan: Berkata Baik atau Diam sebagai Kunci Keselamatan
Sen, 26 Oktober 2026 | 12:18 pm
Bahaya Tersembunyi: Dosa Lisan di Balik Candaan dan Janji Sepele
Sen, 26 Oktober 2026 | 12:18 pm