Tatap Matanya, Bukan Layarmu: Krisis Adab Berkomunikasi di Balik Terangnya Layar Gadget
Tatap Matanya, Bukan Layarmu: Krisis Adab Berkomunikasi di Balik Terangnya Layar Gadget
Diterbitkan Pada :
Ming, 8 November 2026
Diterbitkan Oleh :
abuluqman

Di era di mana dunia bisa digenggam dalam satu tangan, kita justru sering kehilangan koneksi dengan manusia yang duduk tepat di hadapan kita. Jari begitu lincah membalas pesan dari orang yang berjarak ratusan kilometer, namun telinga dan mata mendadak tumpul saat teman bicara sedang merangkai kata. Ironi ini melahirkan sebuah pertanyaan kritis: sejauh mana layar gadget telah merampas adab dasar kita sebagai manusia?

Mengabaikan Manusia Demi Benda Mati

Dalam literatur Islam, etika komunikasi memiliki kedudukan yang sangat sakral. Imam An-Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin mendedikasikan sebuah bab khusus (Bab 90) yang menyoroti hal ini, dengan judul:

بَابُ إِصْغَاءِ الْجَلِيسِ لِحَدِيثِ جَلِيسِهِ الَّذِي لَيْسَ بِحَرَامٍ، وَاسْتِنْصَاتِ الْعَالِمِ وَالْوَاعِظِ حَاضِرَ مَجْلِسِهِ

"Bab anjuran bagi kawan duduk untuk mendengarkan dengan saksama perkataan teman duduknya selama tidak mengandung keharaman, dan anjuran bagi seorang alim (guru) serta pemberi nasihat untuk meminta hadirin di majelisnya agar diam menyimak."

Ketika seseorang berbicara, kewajiban lawan bicaranya adalah isgha—yakni berkonsentrasi, menatap, dan memberikan perhatian penuh.

Namun, pemandangan hari ini sering kali jauh dari kata beradab. Betapa sering kita melihat seseorang yang mengangguk-angguk kosong sementara matanya terkunci pada layar media sosial. Seseorang sedang mencurahkan gagasan atau perasaannya, namun respons yang diberikan hanyalah gumaman sumbang karena pikiran sang pendengar terdistraksi.

Bermain smartphone saat orang lain berbicara di hadapan kita bukanlah sekadar kebiasaan buruk; itu adalah bentuk arogansi tanpa kata. Tindakan ini secara tidak sadar mengirimkan pesan mental yang sangat menohok: "Layar kaca ini lebih penting dan lebih menarik daripada dirimu." Hal ini tidak hanya menyakiti hati lawan bicara karena membuatnya merasa diremehkan, tetapi juga meruntuhkan esensi sikap rendah hati (tawadhu).

Teguran Keras dari Sejarah

Mari berkaca pada standar emas etika komunikasi Rasulullah ﷺ. Beliau tidak pernah memalingkan wajah saat sahabatnya berbicara; beliau memutar seluruh tubuh dan dadanya untuk menghadap lawan bicaranya secara utuh. Sebuah bahasa tubuh yang memancarkan penghormatan mutlak.

Di majelis-majelis ilmu pun, para sahabat mempraktikkan adab mendengarkan tingkat tinggi. Mereka menyimak sedemikian rupa seolah-olah "ada burung yang bertengger di atas kepala mereka". Hal ini dikuatkan oleh hadis sahih saat momentum Haji Wada', di mana Rasulullah ﷺ secara tegas meminta audiens untuk fokus:

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ: «اسْتَنْصِتِ النَّاسَ» ثُمَّ قَالَ: «لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

"Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku pada saat Haji Wada', 'Mintalah orang-orang untuk diam (mendengarkan).' Kemudian beliau bersabda: 'Janganlah kalian kembali kepada kekufuran sepeninggalku, (di mana) sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lain.'" (Muttafaqun 'alaih)

Rasulullah ﷺ bahkan menyuruh sahabatnya untuk menenangkan (istansit) kerumunan agar mereka siap mendengarkan. Berbanding terbalik dengan realita masa kini. Jangankan dalam obrolan santai, di dalam majelis ilmu atau ruang rapat, layar gadget sering kali lebih menyita kesadaran daripada manusia yang berdiri di depan untuk menyampaikan kebaikan. Padahal, merujuk pada bab di atas, seorang guru atau pemateri memiliki hak penuh untuk menegur audiensnya yang lalai.

Kembali Memanusiakan Manusia

Kemajuan sistem digital seharusnya tidak membunuh kecerdasan emosional kita. Adab adalah perkara yang mendahului ilmu. Sudah saatnya kita mengevaluasi diri dan mengembalikan hakikat komunikasi yang beradab.

Langkah perubahannya sangat sederhana: saat seseorang mulai berbicara di hadapan Anda, balikkan layar smartphone Anda menghadap meja, atau masukkan ke dalam saku. Berikan manusia di hadapan Anda haknya untuk didengarkan. Karena pada akhirnya, kehormatan seseorang tidak diukur dari seberapa responsif ia di dunia maya, melainkan dari seberapa utuh kehadirannya bagi manusia di dunia nyata.

Blog

Berita Lainnya

# SMPS IT Riyadhussholihiin Sukses Gelar EXPO 2026, Pengawas Sekolah Apresiasi...
Sab, 7 November 2026 | 2:24 pm
Dzikir-dzikir Bangun dari Tidur
Kam, 5 November 2026 | 10:09 am
Menjaga Konsistensi Amal- Hikmah dari Kitab Riyadhus Shalihin
Kam, 5 November 2026 | 9:57 am
Pertengahan (Proporsional) dalam Memberikan Nasihat: Hikmah dari Kisah Mu'awiyah bin Al-Hakam
Rab, 4 November 2026 | 12:04 pm