Kam, 8 Oktober 2026
abuluqman
Di dalam kehidupan yang singkat ini, sejatinya hanya ada dua hal yang akan menjadi bekal utama dan menjamin kebahagiaan kita di dunia, di alam kubur, hingga di akhirat kelak, yaitu Ilmu yang Bermanfaat (Al-‘Ilmun Nafi’) dan Amal Saleh (Al-‘Amalus Shalih). Keduanya akan menjadi penyelamat tatkala kita ditanya oleh malaikat di alam kubur kelak dengan tiga pertanyaan krusial: Man Rabbuka? (Siapa Tuhanmu?), Ma Dinuka? (Apa agamamu?), dan Man Nabiyyuka? (Siapa Nabimu?).
Dari sinilah betapa pentingnya bagi kita untuk senantiasa menuntut ilmu agama guna membentuk kepribadian seorang muslim yang berakhlak mulia. Salah satu puncak kemuliaan akhlak yang harus dimiliki oleh setiap hamba adalah rasa malu (Al-Haya’).
Malu yang Sesungguhnya Bukanlah Sifat Pengecut
Secara bahasa dan realitas, tidak sedikit orang yang salah menempatkan rasa malu. Mereka merasa malu untuk shalat ke masjid, malu menasihati teman, malu bersedekah, atau malu berhijab syar’i karena takut komentar orang. Dalam syariat, sifat semacam itu bukanlah sifat malu, melainkan tergolong sifat penakut dan pengecut (ajzun wa khawar).
Rasa malu yang benar adalah sebuah akhlak yang mendatangkan kekuatan untuk meninggalkan segala keburukan dan mencegah pelakunya dari melalaikan hak serta kewajiban agama. Malu yang mendatangkan pujian adalah rasa malu yang dibingkai oleh syariat; rasa malu yang senantiasa menjaga wibawa, kehormatan diri, dan membentengi kita dari melanggar larangan Allah ﷻ.
Malu Hanya Mendatangkan Kebaikan
Jika rasa malu telah tertanam di dalam hati dan menjadi tabiat, maka ia tidak akan membuahkan apa pun kecuali hal yang baik. Dari sahabat ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ “Malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.” (Muttafaq ‘Alaih)
Dalam riwayat Muslim yang lain, beliau ﷺ juga menegaskan:
الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ “Malu itu semuanya baik.” (HR. Muslim)
Sifat malu sangat penting baik bagi individu maupun masyarakat. Bayangkan jika sebuah masyarakat kehilangan rasa malu; mereka akan berani bermaksiat, berbicara serampangan tanpa disaring, berbuat curang, korupsi, hingga mengonsumsi perkara yang diharamkan secara terang-terangan. Namun, apabila masyarakatnya pemalu, mereka akan senantiasa saling menjaga kehormatan.
Malu kepada Allah dengan Sebenar-benar Malu
Sebagai seorang mukmin, puncak dari rasa malu adalah malu kepada Sang Pencipta. Jika kepada manusia atau tokoh yang dihormati saja kita merasa malu untuk berbuat tidak pantas, maka Allah ﷻ lebih berhak untuk kita malui (Allahu ahaqqu bil haya’).
Rasulullah ﷺ memerintahkan umatnya untuk mewujudkan hakikat malu kepada Allah, sebagaimana sabda beliau:
اسْتَحْيُوا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ “Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar malu.” (HR. Tirmidzi)
Dalam lanjutan hadits tersebut dijelaskan bahwa wujud malu kepada Allah yang sebenar-benarnya adalah dengan:
Menjaga kepala dan apa yang ada padanya (menjaga mata, telinga, lisan, dan pikiran dari hal-hal yang haram).
Menjaga perut dan apa yang dikandungnya (memastikan tidak ada makanan/minuman haram yang masuk ke dalamnya).
Senantiasa mengingat kematian dan hari kebinasaan.
Doa Memohon Akhlak Mulia
Sifat malu adalah akhlak yang bisa diusahakan (muktasab). Bagi seseorang yang di masa lalunya mungkin tidak memiliki rasa malu dan kerap berbuat maksiat, ia bisa memupuk sifat malu tersebut melalui cahaya ilmu syar’i.
Agar Allah ﷻ senantiasa menjaga kepribadian dan menanamkan akhlak yang mulia di dalam hati kita, mari dawamkan doa-doa yang diajarkan oleh Nabi ﷺ, di antaranya:
اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ “Ya Allah, tunjukilah aku kepada akhlak yang paling baik, tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan Engkau. Dan jauhkanlah dariku akhlak yang buruk, tidak ada yang dapat menjauhkannya melainkan Engkau.” (HR. Muslim)
Serta doa yang sangat masyhur untuk senantiasa memohon kebaikan fisik sekaligus hati:
اللَّهُمَّ كَمَا أَحْسَنْتَ خَلْقِي فَأَحْسِنْ خُلُقِي “Ya Allah, sebagaimana Engkau telah membaguskan penciptaanku, maka baguskanlah akhlakku.” (HR. Ahmad)
Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan kita sifat malu yang membentengi diri dari segala kemaksiatan.
Berita Lainnya
- Bagikan Berita Via