Sab, 27 Juni 2026
abuluqman
(Menyelami Syarah Hadits ke-13 Arba’in Nawawiyah Karya Imam Ibnu Daqiq Al-‘Id Rahimahullah)
Iman di dalam Islam bukanlah sekadar keyakinan yang tersembunyi di dalam dada atau rutinitas ibadah ritual yang bersifat individual. Lebih dari itu, iman yang sejati akan memancarkan cahaya yang membersihkan hati dari sifat egois, kikir, dan dengki, lalu mengubahnya menjadi hati yang lapang serta tulus menginginkan kebaikan bagi orang lain.
Prinsip agung ini dirangkum oleh Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadits pendek namun sarat makna. Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu—pelayan Rasulullah ﷺ—dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»
"Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam Shahih Al-Bukhari, lafaz hadits ini disebutkan secara pasti menggunakan kata «لِأَخِيهِ» (untuk saudaranya). Sementara dalam Shahih Muslim, terdapat keraguan dari perawi antara lafaz «حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ – أَوْ – لِجَارِهِ» (hingga ia mencintai untuk saudaranya —atau— untuk tetangganya). Adapun dalam riwayat An-Nasa'i, terdapat tambahan penjelasan yang mempertegas maknanya: «حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مِنَ الْخَيْرِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ» (hingga ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai kebaikan itu untuk dirinya sendiri).
Memahami Makna dan Batasan Hadits
Imam Ibnu Daqiq Al-‘Id rahimahullah memaparkan penjelasan para ulama mengenai kaidah-kaidah penting dalam memahami hadits ini agar seorang muslim tidak salah kaprah:
1. Makna Penafian Iman
Para ulama menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian…" bermakna tidak sempurna imannya (laa yu'minu minal iimaanit taam). Artinya, pokok atau dasar keimanan tetap sah dan dimiliki oleh orang yang belum mencapai sifat ini, namun bangunan imannya belum utuh dan belum mencapai derajat kesempurnaan.
2. Lingkup Hal yang Dicintai
Maksud dari mencintai bagi saudaranya adalah dalam urusan ketaatan dan hal-hal yang mubah (boleh), bukan dalam perkara yang diharamkan. Hal ini diperkuat oleh riwayat An-Nasa'i yang menyebutkan kata "minal khair" (berupa kebaikan).
3. Apakah Ini Tuntutan yang Mustahil? (Penjelasan Ibnu Ash-Shalah)
Sebagian orang mungkin membayangkan bahwa mencintai kebaikan bagi orang lain setara dengan diri sendiri adalah hal yang terlalu berat bahkan mustahil dicapai oleh tabiat manusia. Menanggapi hal ini, Syaikh Abu ‘Amr bin Ash-Shalah rahimahullah meluruskan:
"Hal ini terkadang dianggap sulit bahkan mustahil, padahal sebenarnya tidak demikian. Sebab maknanya adalah: tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai bagi saudaranya sesama muslim apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri. Cara mewujudkannya adalah dengan menyukai saudaranya mendapatkan nikmat yang serupa dari sisi yang tidak menyerobot atau mengurangi jatah nikmat yang ada pada dirinya sedikit pun."
Beliau kemudian menutup penjelasannya dengan kalimat yang sangat menyentuh:
"Hal tersebut sangatlah mudah dan dekat bagi hati yang bersih (Qalbun Salim), dan hanya terasa berat bagi hati yang berpenyakit (Qalbun Daghil). Semoga Allah memberikan keselamatan kepada kita dan seluruh saudara kita."
Kedalaman Hikmah Para Ulama Salaf
Imam Ibnu Daqiq Al-‘Id juga mengutip tiga sudut pandang luar biasa dari para ulama terdahulu yang menyingkap rahasia di balik hadits ini:
1. Lahiriahnya Kesetaraan, Hakikatnya Mengutamakan Orang Lain (Tafdhil)
Abu Az-Zinad rahimahullah berkata: "Secara lahiriah, hadits ini berbicara tentang kesetaraan (antara diri sendiri dan saudara), namun pada hakikatnya ia menuntut sikap mengutamakan orang lain. Mengapa? Karena tabiat dasar manusia selalu ingin menjadi yang paling unggul di atas semua orang. Maka, ketika ia mencintai saudaranya mendapatkan hal yang sama dengan dirinya, berarti ia telah rela turun dari keegoisan ingin menjadi satu-satunya yang terbaik."
Beliau lalu memberikan contoh nyata dalam urusan hak dan keadilan: Setiap manusia tentu sangat ingin agar haknya dipenuhi dan kezaliman atas dirinya segera diselesaikan. Maka, jika imannya sempurna dan ia sadar bahwa saudaranya memiliki hak yang belum ia tunaikan atau kezaliman yang pernah ia lakukan, ia akan bersegera mengadili dirinya sendiri dan mengembalikan hak saudaranya tersebut, meskipun hal itu terasa pahit dan berat bagi dirinya.
2. Teguran Fudhail bin ‘Iyadh tentang Ketulusan Hati
Dikisahkan bahwa Al-Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata kepada Sufyan bin ‘Uyainah rahimahumallah:
"Jika engkau hanya ingin agar manusia menjadi sepertimu, maka engkau belum menunaikan nasihat (ketulusan) sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Mulia. Lantas bagaimana jadinya jika di dalam hatimu engkau justru menginginkan mereka berada di bawah derajatmu?!"
Ucapan ini membongkar penyakit tersembunyi di hati manusia: sering kali seseorang senang melihat orang lain baik, asalkan tidak lebih baik, lebih alim, atau lebih sukses daripada dirinya.
3. Fikih "Satu Jiwa" dan "Satu Tubuh"
Sebagian ulama menyimpulkan bahwa di dalam hadits ini terkandung fikih persaudaraan yang mendalam: seorang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat satu jiwa (an-nafsul wahidah). Karena keduanya adalah satu jiwa yang utuh, sudah semestinya ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri. Hal ini selaras dengan sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain:
«الْمُؤْمِنُونَ كَالْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ»
"Kaum mukminin itu ibarat satu tubuh; apabila ada satu anggota tubuh yang mengeluh sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya ikut merasakan sakit dengan demam dan tidak bisa tidur."
Refleksi Mendalam: Menguji "Kesehatan Hati" Kita Hari Ini
Menyelami syarah Imam Ibnu Daqiq Al-‘Id di atas mengajak kita untuk melakukan evaluasi jujur terhadap kondisi batin kita di tengah kehidupan modern yang penuh persaingan:
1. Barometer "Qalbun Salim" di Era Media Sosial
Hari ini kita hidup di zaman ketika pencapaian, kebahagiaan, dan rezeki orang lain terpampang nyata di layar ponsel kita setiap hari. Penjelasan Imam Ibnu Ash-Shalah menjadi alat ukur paling akurat bagi hati kita: Apa reaksi pertama yang muncul di dada saat melihat teman, tetangga, atau rekan sejawat mendapatkan kesuksesan?
Jika hati kita ikut tersenyum dan mendoakan keberkahan karena sadar bahwa rezeki Allah tidak akan tertukar atau berkurang karena kesuksesan orang lain, itulah tanda Qalbun Salim (hati yang sehat). Namun, jika yang muncul adalah rasa sesak, sinis, dan mencari-cari celah kekurangannya, kita harus waspada—jangan-jangan ada penyakit (daghal) berupa hasad yang sedang menggerogoti kesempurnaan iman kita.
2. Keadilan yang Dimulai dari Diri Sendiri
Nasihat Abu Az-Zinad mengetuk kesadaran kita dalam bermuamalah. Kita begitu vokal saat hak kita dilanggar, saat utang kepada kita terlambat dibayar, atau saat nama baik kita disinggung. Namun, seberapa cepat kita bertindak saat kitalah yang memegang hak orang lain? Kesempurnaan iman diuji ketika kita berani mengalahkan gengsi untuk meminta maaf lebih dulu, melunasi kewajiban tanpa ditagih, dan memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.
3. Menyembuhkan Sindrom "Takut Tersaingi"
Kalimat Fudhail bin ‘Iyadh adalah obat bagi ambisi duniawi maupun ukhrawi yang keliru. Baik dalam dunia kerja, bisnis, bahkan dalam aktivitas dakwah dan menuntut ilmu, terkadang muncul rasa takut tersaingi ketika ada saudara kita yang tampil lebih cemerlang. Mukmin yang sempurna imannya justru bersyukur ketika melihat semakin banyak orang yang melampaui dirinya dalam kebaikan, karena yang ia cari adalah tegaknya kebaikan dan ridha Allah, bukan pujian atas dirinya semata.
Mari kita jadikan doa dan zikir harian kita sebagai sarana untuk terus membasuh hati dari sifat dengki dan egois. Sebab pada akhirnya, kemuliaan seorang hamba di hadapan Allah sangat ditentukan oleh seberapa bersih hatinya saat menghadap-Nya kelak. Wallahu a’lam bish-shawab.
Berita Lainnya
- Bagikan Berita Via