Sen, 26 Oktober 2026
abuluqman
Dalam setiap helaan napas dan langkah kehidupan, apa sebenarnya yang paling dicari oleh seorang muslim? Jawabannya bermuara pada satu hal yang sangat agung: Ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Tema esensial inilah yang dibahas penuh hikmah oleh Ustaz Dr. (H.C.) Fachrudin Nu'man, Lc., M.Pd. dalam kajian yang disiarkan langsung dari Pondok Pesantren Riyadhus Sholihiin. Menggapai keridaan Allah bukanlah sekadar pelengkap dalam beragama, melainkan puncak dari segala tujuan hidup yang akan mengantarkan manusia pada kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.
Berikut adalah intisari dari langkah-langkah dan prinsip utama untuk menggapai rida Allah:
1. Hakikat Ridha Allah di Atas Segalanya
Banyak orang mengira bahwa tujuan akhir dari ibadah adalah sekadar masuk surga. Padahal, kenikmatan tertinggi di akhirat kelak bukanlah surga itu sendiri, melainkan saat Allah menampakkan rida-Nya dan menyatakan bahwa Dia tidak akan pernah murka lagi kepada hamba-hamba-Nya.
Ketika seorang hamba menjadikan rida Allah sebagai prioritas utama, ia tidak akan lagi pusing memikirkan penilaian manusia. Ia akan merasa cukup dengan pandangan Allah terhadap dirinya, karena ia sadar bahwa pujian manusia tidak akan menyelamatkannya, dan celaan manusia tidak akan membinasakannya jika Allah sudah rida.
2. Kunci Utama Menggapai Ridha Allah
Untuk mendapatkan rida Sang Pencipta, ada beberapa pilar penting yang harus senantiasa dijaga oleh seorang muslim:
Ikhlas dan Memurnikan Tauhid: Ini adalah fondasi paling dasar. Amal sebesar apa pun tidak akan membuahkan rida Allah jika di dalamnya terdapat kesyirikan atau riya (ingin dipuji makhluk). Setiap niat dalam ibadah dan aktivitas sehari-hari harus dikembalikan murni Lillahi Ta'ala.
Ittiba' (Mengikuti Sunnah Nabi): Niat yang baik harus dibarengi dengan cara yang benar. Ibadah yang mengundang rida Allah adalah ibadah yang sesuai dengan tuntunan dan petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Berbakti Kepada Orang Tua (Birrul Walidain): Terdapat sebuah kaidah agung dalam Islam yang bersabda, "Ridha Allah bergantung pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah bergantung pada murka kedua orang tua." Menjaga hati dan memuliakan ayah-ibu adalah jalan pintas yang sangat mustajab untuk meraih keridaan langit.
Menjaga Amal Ketaatan dan Menjauhi Maksiat: Rida Allah turun bersamaan dengan ketaatan. Oleh karena itu, istiqamah dalam menjalankan perintah (seperti salat wajib, tilawah, dan zikir) serta menahan diri dari segala bentuk kemaksiatan adalah bukti kesungguhan seorang hamba dalam mencari rida-Nya.
3. Buah Manis dari Keridaan Allah
Apa yang akan terjadi pada kehidupan seseorang yang telah mendapatkan rida Allah?
Ketenangan Hati (Thumaninah): Ia tidak akan mudah cemas menghadapi urusan duniawi (rezeki, jodoh, atau karier) karena ia yakin semuanya telah diatur oleh Dzat yang meridainya.
Keberkahan Hidup: Apapun yang ia miliki, baik sedikit maupun banyak, akan terasa cukup dan membawa kebaikan bagi diri serta keluarganya.
Husnul Khatimah dan Surga: Ini adalah janji pasti bagi hamba yang diridai; akhir hayat yang baik dan perjumpaan yang membahagiakan dengan Rabb-nya di surga kelak.
Menyelaraskan Tujuan Hidup
Mari kita renungkan kembali niat dalam setiap aktivitas kita—baik saat bekerja, belajar, maupun berkeluarga. Sudahkah semuanya bermuara untuk mencari rida Allah? Jika kehidupan ini dipenuhi dengan upaya mencari rida manusia, kita hanya akan menemui kelelahan dan kekecewaan. Namun, jika rida Allah yang dituju, Allah akan mencukupi segala urusan kita.
Berita Lainnya
- Bagikan Berita Via