Ming, 27 September 2026
abuluqman
(Menyelami Syarah Hadits ke-12 Arba'in Nawawiyah Karya Imam Ibnu Daqiq Al-'Id Rahimahullah)
Di tengah dunia yang begitu bising dan penuh dengan distraksi, kualitas keislaman seorang hamba tidak hanya diukur dari seberapa banyak ia berbicara atau beraktivitas, melainkan juga dari apa yang sanggup ia tinggalkan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»
"Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya (tidak berkepentingan dengannya)."
(Hadits Hasan, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan selainnya).
Kedudukan Agung Hadits Ini
Dalam syarahnya, Imam Ibnu Daqiq Al-'Id rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Qurrah bin Abdirrahman, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Para ulama yang menshahihkan jalur-jalur periwayatannya menegaskan bahwa sabda Nabi ﷺ ini termasuk dalam kategori Jawami’ul Kalim—yaitu kalimat yang sangat ringkas dalam lafaznya, namun menghimpun makna yang begitu luas, dalam, dan agung.
Saking agungnya kandungan hadits ini, Imam Abu Dawud rahimahullah pernah menyatakan:
"Pokok-pokok sunnah (ajaran Islam) pada setiap cabang ilmu berporos pada empat hadits."
Lalu beliau menyebutkan salah satu dari empat pilar utama tersebut adalah hadits “Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” ini. Mengapa demikian? Karena seluruh adab, akhlak, penjagaan lisan, hingga keselamatan hati seorang mukmin berpulang pada kemampuannya menyaring mana urusan yang bernilai bagi dunia dan akhiratnya, dan mana yang sekadar kesia-siaan.
TigaUntaian Hikmah Para Salaf dan Hukama
Untuk memahami betapa dalamnya pesan hadits ini, Imam Ibnu Daqiq Al-'Id mengutip tiga mutiara hikmah yang saling melengkapi:
1. Menimbang Ucapan Sebagai Amal (Prinsip Abu Dzar Al-Ghifari)
Diriwayatkan dari sahabat mulia Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu dalam sebagian tuturannya:
"Barangsiapa yang menghitung ucapannya sebagai bagian dari amalnya, niscaya akan sedikit bicaranya kecuali dalam hal yang penting (bermanfaat) baginya."
Banyak manusia mengira bahwa "amal" hanyalah shalat, puasa, dan sedekah, sementara obrolan harian dianggap bebas dari perhitungan. Ketika seorang mukmin sadar bahwa setiap kata yang meluncur dari lisannya adalah tabungan amal yang kelak dipertanggungjawabkan, ia otomatis menjadi sangat selektif dalam berbicara.
2. Rahasia Kemuliaan Luqman Al-Hakim
Imam Malik rahimahullah menyebutkan sebuah riwayat yang sampai kepadanya, bahwa suatu ketika Luqman Al-Hakim ditanya oleh orang-orang: "Apa yang membuatmu mencapai derajat keutamaan dan kebijaksanaan yang kami lihat pada dirimu ini?"
Luqman menjawab dengan tiga kunci utama:
Jujur dalam berbicara (Shidqul hadits),
Menunaikan amanah (Ada'ul amanah), dan
Meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagiku (Tarku ma la ya'nini).
Lihatlah bagaimana Luqman menyandingkan sikap "tidak ikut campur pada hal yang sia-sia" sejajar dengan kejujuran dan amanah sebagai tangga menuju kemuliaan hidup.
3. Peringatan Keras Al-Hasan Al-Bashri: Tanda Allah Berpaling dari Hamba
Diriwayatkan dari Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, beliau berkata dengan kalimat yang menggetarkan jiwa:
"Di antara tanda berpalingnya Allah Ta’ala dari seorang hamba adalah Allah menjadikan kesibukan hamba tersebut pada hal-hal yang tidak bermanfaat baginya."
Ungkapan ini adalah peringatan paling serius. Ketika seseorang terus-menerus tenggelam dalam urusan yang tidak membawa manfaat bagi agamanya maupun dunianya, itu bukan sekadar masalah "kurang produktif", melainkan bisa jadi merupakan bentuk hukuman halus dan tanda bahwa Allah sedang berpaling darinya (khadzlan).
Refleksi Mendalam: Bercermin di Era Kebisingan Digital
Jika para ulama terdahulu begitu mewanti-wanti umat dari perkara yang sia-sia di masa yang tenang, bayangkan betapa mendesaknya nasihat ini bagi kita yang hidup di era informasi dan media sosial saat ini.
Ada tiga perenungan penting yang patut kita tanyakan pada diri kita:
1. Ketika "Rasa Ingin Tahu" Menggerogoti Kualitas Iman
Hari ini, betapa mudahnya kita terseret untuk mengomentari hidup orang lain, mencari tahu aib atau gosip yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tanggung jawab kita, hingga berdebat kusir di kolom komentar dengan orang yang bahkan tidak kita kenal. Hadits ini mengajarkan bahwa ukuran ihsan (kebaikan) Islam kita terlihat saat kita mampu menahan jari dan lisan sambil berkata pada diri sendiri: "Urusan ini tidak akan ditanyakan oleh Allah kepadaku di hari kiamat kelak, maka aku tinggalkan."
2. Menghitung Kata dan Ketikan Sebagai Amal
Nasihat Abu Dzar radhiyallahu 'anhu seolah menampar kebiasaan kita sehari-hari. Jika setiap kata yang kita ucapkan dan setiap kalimat yang kita ketik di layar ponsel dihitung sebagai bagian dari amal yang menguras jatah usia kita, masihkah kita rela membuangnya untuk ghibah, celaan, atau candaan yang melalaikan hati?
3. Mengevaluasi Kesibukan Harian Kita
Perkataan Al-Hasan Al-Bashri harus menjadi alarm bagi waktu luang kita. Cobalah periksa ke mana habisnya waktu kita dari bangun tidur hingga kembali memejamkan mata. Jika berjam-jam waktu kita habis untuk menggulir layar (scrolling) tanpa arah, menonton tontonan yang mematikan hati, atau mengurusi privasi orang lain—sementara Al-Qur'an kita berdebu dan ibadah kita tergesa-gesa—kita perlu segera beristighfar. Jangan sampai kesibukan kita yang tampak "mengasyikkan" itu sejatinya adalah tanda bahwa Allah sedang membiarkan kita tersesat dalam kelalaian.
Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat bukanlah sikap apatis atau tidak peduli terhadap sesama, melainkan seni memfokuskan energi, waktu, dan pikiran hanya pada hal-hal yang mendekatkan diri kita kepada ridha Allah dan memberi manfaat nyata bagi sesama.
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kejernihan hati untuk mampu membedakan mana yang bernilai abadi dan mana yang sekadar ilusi, serta membimbing kita menjadi hamba-Nya yang bagus keislamannya. Wallahu a'lam bish-shawab.
Berita Lainnya
- Bagikan Berita Via